Top AdSense unit 728 × 90

TRENDING NOW


ilustrasi

Assalamu'alaikum Para SantriPerjalanan haji Abdullah bin Mubarak ke Tanah Suci terhenti kala ia sampai di kota Kufah. Dia melihat seorang perempuan sedang mencabuti bulu itik dan Abdullah seperti tahu, itik itu adalah bangkai. "Ini bangkai atau hasil sembelihan yang halal?" tanya Abdullah memastikan. "Bangkai, dan aku akan memakannya bersama keluargaku." Ulama hadits yang zuhud ini heran, di negeri Kufah bangkai ternyata menjadi santapan keluarga. Ia pun mengingatkan perempuan tersebut bahwa tindakannya adalah haram. Si perempuan menjawab dengan pengusiran.

Abdullah pun pergi tapi selalu datang lagi dengan nasihat serupa. Berkali-kali. Hingga suatu hari perempuan itu menjelaskan perihal keadaannya. "Aku memiliki beberapa anak. Selama tiga hari ini aku tak mendapatkan makanan untuk menghidupi mereka." Hati Abdullah bergetar. Segera ia pergi dan kembali lagi bersama keledainya dengan membawa makanan, pakaian, dan sejumlah bekal. "Ambilah keledai ini berikut barang-barang bawaannya. Semua untukmu." Tak terasa, musim haji berlalu dan Abdullah bin Mubarak masih berada di Kufah. Artinya, ia gagal menunaikan ibadah haji tahun itu. Dia pun memutuskan bermukim sementara di sana sampai para jamaah haji pulang ke negeri asal dan ikut bersama rombongan.

Begitu tiba di kampung halaman, Abdullah disambut antusias masyarakat. Mereka beramai-ramai memberi ucapan selamat atas ibadah hajinya. Abdullah malu. Keadaan tak seperti yang disangkakan oran-orang. "Sungguh aku tidak menunaikan haji tahun ini," katanya meyakinkan para penyambutnya.

Sementara itu, kawan-kawannya yang berhaji menyuguhkan cerita lain. "Subhanallah, bukankah kami menitipkan bekal kepadamu saat kami pergi kemudian mengambilnya lagi saat kau di Arafah?" Yang lain ikut menanggapi, "Bukankah kau yang memberi minum kami di suatu tempat sana?" "Bukankah kau yang membelikan sejumlah barang untukku," kata satunya lagi.

Abdullah bin Mubarak semakin bingung. "Aku tak paham dengan apa yang kalian katakan. Aku tak melaksanakan haji tahun ini." Hingga malam harinya, dalam mimpi Abdullah mendengar suara, "Hai Abdullah, Allah telah menerima amal sedekahmu dan mengutus malaikat menyerupai sosokmu, menggantikanmu menunaikan ibadah haji."

ditulis Ulang Oleh Pak Rt
sumber Ade Sampurno‎ |Santri NKRI PANCASILA



BACA JUGA



Gus Miek, Nyantri di Mbah KH. Dalhar


Assalamu'alaikum Para Santri Setelah menunjukkan kemampuannya kepada kedua orang tuanya, beberapa bulan kemudian Gus MIek melanjudkan studinya di Lirboyo.
Di tengah-tengah penddidikannya di Lirboyo, Gus Miek justru pergi ke Watucongol Magelang, ke pondok pesantren yang diasuh KH. Dalhar yang terkenal sebagai seorang wali di Jawa Tengah.

KH. Dalhar adalah seorang di antara tiga wali yang termasyhur di Fawa Tengah. Ketiga wali itu adalah KH. Hamid, Kajoran, Magelang, sebagai wali dakwah; dan KH. Dalhar sendiri sebagai wali hakikat. Akan tetapi, sejak KH. Dalhar wafat pada 1959, menurut sebagian pendapat, posisinya digantikan KH. Mangli, Magelang.

Awal kedatangannya di Watucongol pada 1954, Gus Miek tidak langsung mendaftarkan diri menjadi santri, tetapi hanya memancing di kolam pondok yang dijadikan tempat pemandian. Hal itu sering dilakukannya pada setiap datang di Watucongol kebiasaannya memancing tanpa memakai umpan, terutama di kolam tempat para santri mandi dan mencuci pakean, membuat Gus Miek terlihat seperti orang gila bagi orang yang belum mengenalnya. Setelah beberapa bulan dengan hanya datang dan memancing di kolam pemandian, ia lalu menemui KH. Dalhar dan meminta izin untuk belajar.
“Kiai, saya ingin ikut belajar kepada kiai,” kata Gus Miek ketika itu.
“Belajar apa tho, Gus, kok kepada saya,” tanya KH. Dalhar.
“Saya ingin belajar Al Qur’an dan Kelak ingin saya sebarkan,” jawab Gus Miek dengan mantap.
KH. Dalhar akhirnya mau menerima Gus Miek sebagai muridnya, khusus untuk belajar Al Qur’an.

Akan tetapi, Gus Miek tidak hanya sampai di situ saja, ia berulang kali juga meminta berbagai ijsah amalan untuk menggapai cita-cita, tanggung jawab, dan ketenangan hidupnya. Seolah ingin menguras habis semua ilmu yang ada pada KH. Dalhar, terutama dalam hal kepasitas KH. Dalhar sebagai seorang wali, mursyid tarekat, dan pengajar Al Qur’an. Gus Miek juga seolah ingin mempelajari bagaimana seharusnya menjadi seorang wali, apa saja yang harus dipenuhi sebagai seorang mursyid, dan seorang pengajar Al Qur’an.

Setiap kali Gus Miek meminta tambahan ilmu, KH. Dalhar selalu menyuruh dia membaca Al Fatehah. Apa pun bentuk permintaan Gus Miek, KH. Dalhar selalu menyuruhnya mengamalkan Al Fatehah. Barangkali karena ajaran KH. Dalhar sersebut, Gus Miek banyak memberikan ijasah bacaan Al Fatehah kepada para pengikutnya untuk segala urusan. Bahkan apabila ingin berhubungan dengan Gus Miek, cukup dengan membacakan Al Fatehah saja. Dan, bisa jadi inilah yang mengilhami Gus Miek (di samping ijasah yang diberikan oleh Imam Al Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin yang disampaikan kepada adiknya) menerapkan ajaran sejumlah bacaan Al Fatihah dalam kegiatan wirid Lailiyah yang didirikannya pada tahun 1961, yang kemudian berkembang menjadi Dzikrul Ghofilin pada 1973.

KH. Dalhar, bagi Gus Miek, adalah satu-satunya orang yang dianggap sebagai guru dunia dan akhirat. Oleh karena itu, selama berada di Watucongol, Gus Miek dengan telaten selalu membersihkan terompah KH. Dalhar, dan menatanya untuk lebih mudah dipakai ketika KH. Dalhar naik ke masjid. Menurut Gus Miek, hal itu dilakukan sebagai upayanya untuk belajar istiqamah. Sebab istiqamah, menurut ajaran KH. Djazuli, ayahnya, adalah lebih utama dari 1000 karomah. Oleh karena itu, dalam rangka melatih keistiqamahannya, Gus Miek memulai dengan istiqamah membersihkan dan menata terompah KH. Dalhar gurunya.

Pernah, di suatu hari, Gus Miek menemukan trompah KH. Dalhar yang biasanya ada di depan kamar ada dua buah yang sama persis baik ukuran maupun bentuknya sehingga ia tidak bias membedakannya. Bungkul (tangkai tempat menjepit antara jari kaki) terompah KH. Dalhar terbuat dari emas, terompah yang satu juga sama. Akhirnya, ia membersihkan dan menata keduanya sambil menunggu siapakah tamu gurunya itu. Sekian lama ia menunggu sampai terkantuk-kantuk, tetapi terompah itu tetap dua buah jumlahnya. Ketika sesaat ia terlena, terompah itu tinggal satu. Ia terkejut, kemudian berlari jauh keluar pondok untuk melihat tamu tersebut sepanjang jalan sehingga nafasnya tersengal-sengal. Tetapi, jalan tampak sepi dan tidak ada seorang pun terlihat melintas. Padahal, menurut perkiraan Gus Miek, orang tua yang berjalan memakai terompah itu pasti belum jauh dan seharusnya sudah terkejar atau justru berada jauh di belakangnya.

Esok harinya, Gus Miek menemui KH. Dalhar yang baru turun dari masjid memimpin jama’ah shalat Zuhur, sesampai di kamarnya Gus Miek bertanya: “Maaf, Guru, tamu Guru tadi malam itu siapa?”
KH. Dalhar tidak menjawab, sementara Gus Miek tidak mau beranjak sebelum mendapatkan jawaban. Gus Miek tatap duduk menunggu jawaban dari KH. Dalhar. Ketika KH. Dalhar beranjak ke masjid untuk mengimami shalat Ashar, ia mengikutinya untuk menata terompah KH. Dalhar. Dan, ketika KH. Dalhar kembali ke kamar, Gus Miek pun kembali mengikutinya dan duduk di depan kamar untuk menunggu jawaban. Demikian juga ketika saat tiba waktu shalat Maghrib dan Isya. Sehingga, baru ketika sesudah Isya, KH. Dalhar menyuruh pembantunya memberi tahu bahwa tamunya semalam adalah Nabi Khidir. Setelah mendapatkan jawaban itu, barulah ia mau beranjak dari tempat duduknya.

Menurut keterangan Nyai Dalhar, dari sekian banyak santri KH. Dalhar, hanya Gus Miek yang berani dan diizinkan masuk ke kamar KH. Dalhar. Kegiatan Gus Miek di Watucongol selain mengaji Al Qur’an, Gus Miek juga tetap sering bepergian ke pasar-pasr, tempat hiburan, dan mengadu ayam jago. Kebiasaan ini membuat Gus Miek sering harus berhadapan dengan Gus Mad, putra KH. Dalhar, yang kebetulan saat itu memegang tanggung jawab sebagai keamanan pondok karena Gus Miek dianggap sering tidak disiplin. Sedangkan santri yang sering menemani Gus Miek saat di Watucongol adalah Bakri (KH.Bakri), kini pengasuh Pesantren Al Qur’an, Jampiroso, Kacangan, Boyolali.

Pernah Gus Miek menyuruh beberapa gus di Kediri agar buru-buru mondok di tempat KH. Dalhar karena dia akan meninggal. Semua berbondong ke tempat KH. Dalhar. Saat itu, Gus Miek menyatakan bahwa KH. Dalhar akan meninggal sekitar 23 Ramadhan 1959, begitu semua datang ke Watucongol, ternyata KH. Dalhar masih sehat. Tercatat di antara orang-orang yang pergi ke Watucongol adalah KH. Mubasyir Mundzir dan Gus Fu’ad (adik Gus Miek).Pernah KH. Djazuli menugaskan Gus Nurul Huda untuk datang ke Watucongol mewakili KH. Djzuli untuk menyerahkan adik-adiknya yang mondok ke Watucongol. Di Watucongol, Gus Huda di samping menyerahkan adik-adiknya kepada KH. Dalhar sebagaimana amanat KH. Djazuli, juga meminta maaf bila bila adiknya, Gus Miek, banyak melakukan kekeliruan di Watucongol.
Tetapi, jawab KH. Dalhar waktu itu justru sangat mengejutkan Gus Huda, “Gus Miek itu difatihahi mental,” jawab KH. Dalhar.
Gus Huda hanya tersenyum karena dia sudah paham akan adiknya yang satu itu. Dalam versi yang lain diceritakan bahwa bukan Gus Huda yang menyerahkan Gus Miek, tetapi kebalikannya. Saat itu, Gus Huda dan Gus Fua’ad disuruh KH. Djazuli agar mondok ke KH. Dalhar. Saat hendak berangkat, Gus Miek masih duduk di teras dengan hanya memakai celana pendek.“Mau ke mana, Mas Dah?” tanya Gus Miek.“Aku disuruh bapak mondok ke Jawa Tengah dengan Fu’ad,” jawab Gus Huda.

Keduanya kemudian berangkat dengan naik kereta api. Sesampainya di Watucongol, ternyata Gus Miek sudah berada di teras pondok dengan pakaian masih seperti tadi pagi ketika di kediri.“Kenapa di sini?” tanya Gus Huda yang sudah mengenal kelebihan adiknya.
“Mengantar kalian kepada Kiai Dalhar,” jawab Gus Miek.
“Aku tidak mau kalau pakaianmu seperti itu,” jawab Gus Huda sambil memberikan pakaiannya ke pada Gus Miek untuk berganti pakaian.
Mereka bertiga kemudian sowan. Setelah sowan, Gus Miek mengantarkan memilih kamar dan setelah itu hilang entah ke mana dengan meninggalkan pakaian Gus Huda.

Akhirnya, semua memburu Gus Miek karena dianggap telah berbohong perihal kematian KH. Dalhar. Tetapi semua menjadi terdiam ketika 25 Ramadhan 1959, KH. Dalhar benar-benar meninggal dunia.

Illa ruhi khususon KH. Dalhar, Gus Miek bi barokatil Alfatihah.......


ditulis Ulang oleh Pak Rt
sumber berbagai sumber




BACA JUGA





Jus Kubis Pencegah Kangker Payudara



Assalamu'alaikum Para Santri Segelas jus kubis mampu cegah kanker payudara, Wajib Baca

Hingga saat ini kanker payudara masih menjadi penyakit pembunuh nomor satu di kalangan para wanita. Diagnosis yang tepat hingga pencegahan secara dini termasuk dengan menjauhi faktor penyebabnya bisa menghindarkan kamu dari penyakit kanker payudara.

Sebuah penelitian yang dilansir dari boldsky.com menemukan bahwa kubis yang diolah menjadi jus mampu menjadi minuman efektif untuk mencegah kanker. Alasannya?

Kaya zat antioksidan


Kubis kaya akan zat antioksidan seperti vitamin A dan vitamin C. Selain itu, kandungan fitonutrien di dalamnya mampu mencegah pembentukan sel kanker pada payudara.

Bersifat anti-inflamasi

Kubis mengandung banyak nutrisi bersifat anti-inflamasi yang membantu dalam mengurangi tingkat peradangan yang disebabkan karena kanker payudara.

Kaya vitamin B dan vitamin K

Kandungan vitamin B, k dan khususnya folat di dalam kubis membantu mengurangi risiko kanker payudara.

Mengandung glucosinolates

Kubis mengandung zat yang disebut dengan glucosinolates yang merupakan senyawa organik dan membantu dalam mencegah kanker payudara.

Selain nutrisi di atas, zat alami dalam kubis mengurangi estrogen metabolit 16alpha-hydroxyestrone yang bermanfaat untuk menekan pertumbuhan sel penyebab kanker payudara.


ditulis ulang oleh Pak Rt




BACA JUGA






Assalamu'alaikum Para Santri Tulisan Ketua RMI Malang , Gus Yazid ( suami Ning Ayik binti Romo Yai Idris Hamid )

Ujaran dan ajaran dlm Istighosah Kubro

Dunia ini seringkali jadi aneh krn dipenuhi manusia yg aneh aneh. Namun keanehan memang sengaja diciptakan agar jadi i'tibar bagi manusia yg cerdas utk merawat jiwa ulul albab serta kecerdasannya.

Maka wajar jika beri'tibar pada keanehan dunia itu tdk mungkin dilakukan oleh mrk  yg 'bersumbu pendek' maupun yg hanya tahu bahwa 'bumi itu datar'. Faham kan?

Sreeeeet ______________________________________________________________

"Yg dielu-elukan Zakir Naif, yg dipuji Raja Salman dan yg mrk idolakan Erdogan seraya meneriakkan khilafah syariah sbg pekikan. Manakala para kyai yg selama ini menjaga NKRI malah dihujat, pemimpin sah digugat, dan sistem politik negeri yg maslahat ini dianggap thogut dan khurafat. Memang selama ini mrk hidup dan makan dimana?"

Aneh kan?

Di barat, Islam Nusantara yg damai ini mulai dikaji krn dianggap sbg solusi. Di negera2 Islam yg dilanda kebengisan dan carut marut perang, Islam yg toleran ala NU ini diimpikan dan dijadikan harapan. Lha kok disini malah diserang dan dienyahkan utk diganti dg sistem yg penuh kemafsadahan dmn agama dan politik saling berkelindan?

Aneh lagi bukan? Pun ..

Begitu cintanya mrk pd labelitas agama, maka apapun yg berlabel syariah, syari dan Islam dianggap halal. Manakala yg tidak berlabel Islam dianggap haram. Dari bank syariah, hijab syari, hingga fitnah, caci maki dan ucapan laknat pun dilakukan. Asal yg melakukan org berjubah dg bumbu dalil Qurani maka dianggap halal. Emang minyak babi cap onta dihalalkan oleh Islam?

Ada lagi yg bilang ..

"Jangan meng-NU-kan Aswaja, tapi Aswajakan lah NU". Bagi saya statemen ini juga aneh yg keluar dari orang yg tdk ngerti NU dan sanad keilmuannya gak nyambung ke kyai NU. Jangankan manhaj pemikiran NU, mrk tahu mbah Hasyim Asy'ari aja mungkin dari kalam "Jare" alias jarang benere. Lantas pantas kah mrk mengklaim mewakili NU-nya mbah Hasyim?

Hingga akhirnya, NU dan para Kyai NU yg sdh 'muttafaq alaih' ilmu dan sanadnya itu pun dianggap 'ittifaq ala al kadzib'; bengkok semua sehingga harus diluruskan; begitu menurut mereka. Emang NU itu bergaris bongsor sehingga butuh NU garis kurus? Aneh kan?

Sreeeeet  ______________________________________________________________

Org Islam kagetan yg hanya tau bahwa 'bumi itu datar' mmg perlu diberi pelajaran. Nada sumbang mereka pada NU dan kyai NU itu perlu dibungkam agar tdk membuat Islam Indonesia yg toleran ini tercemar akibat ulah mrk yg penuh kenaifan.

Jangan hanya krn mereka menguasai media sehingga semua ucapan mrk patut utk dibenarkan. Meniru ujaran kebencian mrk pun dianggap pahala dan fitnah keji yg mrk lakukan pun dianggap jalan menuju sorga. Apa begitu Islam mengajarkan?

Inilah momen mengapa #IstighosahKubro perlu dilakukan dg komando para Kyai utk memberi i'tibar dan pelajaran bagi mrk yg kini pongah karena jadi sorotan. Seakan merekalah yg berhak menentukan opini tentang Islam dan arah negeri ini ke depan.

Ingat kawan ..

Kyai-kyai NU juga bukanlah ulama karbitan yg dihasilkan dari audisi media seperti mrk. Tapi kyai NU adalah ulama panutan yg lahir dari rahim masyarakat yg dg kealiman dan kemakrifatan mrk pd umat, selalu menjaga iman kami dari berbagai rongrongan.

Mereka membela umat, bukan malah minta dibela umat. Mereka memberdayakan masyarakat  agar ttp pada trak akhlak dan syariat, bukan malah memperdaya umat utk kepentingan dan kekuasaan sesaat.

Itulah ujaran dan ajaran kyai-kyai panutan kami yg telah disampaikan..

Sreeeeet  ______________________________________________________________

NU juga bukanlah organisasi instan yg menjadi besar krn pencitraan. Sebab NU adalah organisasi akar rumput yg menjadi besar krn perjuangan para kyai dan santri yg penuh keikhlasan. Komitmen mereka utk mengawal NKRI dan masyarakat adalah spirit perjuangan. Dan moralitas Islam serta ketulusan adalah pilar yg menjadi kekuatan.

Mereka menjaga NKRI bukan malah menghancurkan. Beliau beliau merawat Pancasila dan kebhinekaan, bukan malah meruntuhkan. Krn disitulah nilai Islam dan kemaslahatan umat Islam terpupuk dan tertanam.

Apa kami memekikkan Allah Akbar sambil mengibarkan panji ketu

hanan? Apalagi mencari simpati masyarakat dg shalat di jalanan agar tercapai segala kepentingan?

Tidak! Kami hanya ingin mengetuk pintu langit dg lantunan doa. Karena, NKRI lah yg harus dibela sebagaimana Hadrotus Syekh Hasyim Asy'ari mengajarkan, bukan simbol Islam, apalagi Tuhan yg jelas jelas Maha Kuasa dan Perkasa.

Apakah kami mengemis uang transpot apalagi memelas nasi bungkusan? Atau apakah kami mengais dana kpd mrk yg sama kepentingan agar sukses dalam melakukan makar?

Tidak! kyai kami mengajarkan bahwa perjuangan demi NKRI itu membutuhkan mujahadah dan keikhlasan. Agar bambu runcing yg sederhana mampu mengalahkan todongan bayonet dan dentuman meriam.

Kami pun beristighosah tanpa perlu simbol agama dan slogan angka. Krn kami diajari oleh para kyai kami bahwa Tuhan tdk butuh slogan apalagi angka togel keberuntungan. Krn yg dilihat Allah adalah hati kami, bukan penampilan.

Walau mungkin kami berselfie, maklumlah sebab kami santri NU yg msh awam. Asal yg suka selfie bukan kyai dan ulama kami untuk pencitraan. Krn pemimpin yg ikhlas adalah kekuatan yg takkan terkalahkan.

Sreeeeet  ______________________________________________________________

Maka momen ini hakikatnya bukan sekedar utk menyampaikan ajaran moral. Tapi juga ujaran kebaikan utk menjaga negeri ini agar ttp dalam koridor kemaslahatan. Sehingga jika kami dituduh unjuk kekuatan, biarlah hal itu menjadi ucapan.

Bukan jumawa, bukan pula menandingi. Tapi orang takabur yg merasa tinggi hati krn mrk merasa mampu memonopoli opini (agama) dan mengkoptasi (kekuasaan) itu perlu juga utk ditakabburi oleh kita yg di sini dg niat utk "wa tawashou bil haqqi", sebagaimana nabi Musa juga perlu menyombongi Bani Ngisroil yg sombong dan dipenuh kepongahan.

Buktinya, mrk disana besar dan bergerak krn adanya dana milyaran. Manakala di sini kami bergerak dg spirit ngibadah dan Khidmah kpd NU dan kyai panutan meski harus urunan.

Banggalah jadi warga NU dan santri Hadrotus Syekh Hasyim Asy'ari. Salam istighosahan kawan!
#cintaNUcintaNKRI

ditulis ulang oleh Pak Rt
sumber Tulisan Ketua RMI Malang , Gus Yazid ( suami Ning Ayik binti Romo Yai Idris Hamid )




BACA JUGA

Habib Ahmad Tempel: Saya Merokok Untuk Membakar Setan


Ilustrasi Mengaji

Assalamu'alaikum Para SantriSatu waktu saya pernah didawuhi Guru saya Abah KH. Aliy As'ad:

"Nek kepingin urip kepenak, urusan lancar, rejeki gampang, lan entuk nikmat sing ora disongko-songko, ojo lali moco surat Fatihah sedino ping 100, biso sekaligus utowo dicicil saben-saben ba'da sholat 20x , dilakoni minimal patang puluh siji dino (41hari) ojo nganti pedot, sukur sukur biso istiqamah selawase"

Hal ini persis seperti yg diijazahkan Mbah Abdul Hamid Pasuruan kepada para santri dan pendereknya yaitu:

"Barangsiapa membaca surat Fatihah 100x tiap hari, maka ia insyaAllah akan mendapatkan keajaiban-keajaiban yg tak terduga. Ke 100 bacaan fatihah bisa dibaca sekaligus, bisa juga dicicil yaitu 30 setelah sholat subuh, 25 setelah sholat dzuhur, 20 setelah sholat ashar, 15 setelah sholat maghrib, dan 10 setelah sholat isya'. 

Wallahu A'lam...Bibarokati Mbah Hamid Pasuruan dan Abah Aliy As'ad, Al-Faatihah...


N/B  Abah Aliy As'ad mendapat ijazah Surat Fatihah 100x dari Mbah Hamid secara langsung, yaitu ketika beliau sowan ke Pasuruan, sekaligus di beri ijazah doa, bacaan dan tata cara sholat tarawih ala Mbah Hamid yg sampai sekarang msh diamalkan di ponpes Nailul Ula Plosokuning Ngaglik Sleman Jogjakarta.

اللهم انا نسئلك بحق الفاتحة المعظمة والسبع المثاني أن تفتح لنا بكل خير وأن تتفضل علينا بكل خير وأن تجعلنا من اهل الخير يا الله يا ارحم الراحمين.

Semoga Bermanfaat...

ditulis Ulang oleh Pak Rt



Top Ad unit 728 × 90

ads