Top AdSense unit 728 × 90

TRENDING NOW

setan
ilustrasi Setan
Assalamu'alaikum wahai para sahabat~  Sayyidi Syeikh Mutawalli Asy-Sya’rawi pernah bertanya kepada seorang pemuda Wahabi yang berhaluan keras dan suka mengkafirkan, "Apakah mengebom sebuah klub malam di negara Muslim itu halal atau haram?"

Dia menjawab, "Tentu saja halal, membunuh mereka itu boleh."

Beliau bertanya lagi, "Jika seandainya engkau membunuh mereka, sedangkan mereka bermaksiat kepada Allah, kemana mereka akan ditempatkan?"

Dengan yakin pemuda itu menjawab, "Tentu di neraka."

"Kemana pula setan menjerumuskan manusia?" Beliau bertanya lagi.

Dia menjawab, "Tentu saja ke neraka. Mustahil setan membawa manusia ke surga."

Selanjutnya beliau berkata, "Jika demikian, engkau dan setan memiliki tujuan yang sama, yaitu memasukkan manusia ke dalam neraka."

Beliau lalu menyebutkan sebuah kisah dimana ketika ada mayat seorang Yahudi lewat di hadapan Rasulullah Shollallahu 'Alaihi Wasallam, beliau lalu menangis. Para sahabat bertanya mengapa beliau menangis. Beliau menjawab, "Telah lolos dariku satu jiwa dan ia masuk ke dalam neraka."

"Perhatikan perbedaan kalian dengan Rasulullah yang berusaha memberi petunjuk dan menjauhkan mereka dari neraka. Kalian berada di satu lembah, sedangkan Rasulullah berada di lembah lain."

Pemuda itu hanya diam membisu mendengarnya.

Peristiwa pembantaian kaum Sufi oleh teroris ISIS di Mesir baru-baru ini, adalah dasar dari pemahaman Wahabi yang menyatakan bahwa para Sufi merupakan pelaku bid'ah dan musyrik sehingga halal darahnya untuk ditumpahkan, mirip seperti pemikiran pemuda radikal di atas.

Mereka pikir inilah jihad yang bisa mengirim sesama Muslim -yang mereka anggap musuh- ke dalam neraka.

Padahal sebagaimana yang dikatakan Imam Jalaluddin Ar-Rumi bahwa kaum Sufi adalah mereka yang patah hati terhadap dunia. Karenanya bagi mereka, kematian bukanlah suatu hal yang mengerikan, sebab dengan itulah perjumpaan dengan Sang Kekasih yang selama ini mereka idam-idamkan segera terlaksana.

Lalu mereka yang meyakini ini adalah jihad, apa yang telah mereka raih? 72 Bidadari? Kekuasaan Khilafah?

Tidak ada sama sekali!

Satu-satunya yang dapat mereka raih dari perbuatan keji tersebut adalah citra buruk Islam di mata dunia, sebab mereka membunuh atas nama Islam.

والله اعلم
ditulis ulang oleh Pak Rt
sumber ROMY.s


Assalamu'alaikum wahai para sahabat sekarang ini hampir tidak ada musik baru yang bernuansa anak Band, semua uda EDM, solois, dsg.. Twenty one pilots adalah bagian kecil anak-anak band yang msh bisa naik di masa sekrang, saya coba cover dg versi bahasa jawa. dengan tema kelanjutan dari Short Movie Gafarock sebelumnya.. selamat menikmati
@GAFAROCK Vocal / Gitar : Faiz Alhabib Drum : Fendy PANDAWA5 PRODUCTION

Spotify : https://open.spotify.com/album/4MIOP0...
Amazon : https://www.amazon.com/dp/B06XX7BB6T/... twenty one pilots - ride (cover) LIRIK + TERJEMAH INDONESIA COKOT MACAN (digigit macan) Ning tengah sawah aku ijenan ( ditengah sawah aku sendirian ) dolanan layangan ( bermain layang layang ) Pisan pisan kalah sambitan ( skali skali kalah tanding ) Adoh pedot ngilang ( jauh, putus menghilang ) Tak golek'i sampek ning hutan ( ku cari sampai ke hutan ) Tapine wes kilangan ( tapi sudah hilang ) Dalanan iki ora kenal ( jalanan ini tak kenal ) Tibak'e aku nyasar ( ternyata aku tersesat ) Ououo2x pengen moleh ( ouwouwo.. ingin pulang ) Ngko nang kene dicokot macan ( nanti disini digigit macan ) Ououo2X.. Ape moleh (ououo mau pulang ) ora ngerti arahe dalan ( tidak tahu arah jalan ) Dulinan layangan ( main layang layang ) Tengah lapangan ( di tengah lapangan ) Kalah sambitan ( kalah tanding ) Layangan ilang ( layang layang hilang ) Tak buru tenan ( sungguh ku kejar ) Sampek nang hutan ( sampai ke hutan ) Akhire saiki aku kesasar ( akhirnya sekarang tersesat ) Rasane pengen cepet nang omah ( rasanya ingit cepat dirumah ) Emakku pasti atine susah ( ibuk ku pasti hatinya sedih ) Nggolek'i aku nang sekolah ( mencariku di sekolah ) Nggolek'i aku nang mushollah ( mencari ku di mushollah ) Sue tambah sue ( lama kelamaan ) Kok tambah sore ( kok semakin sore ) langite tambah peteng mengkene ( langit semakin gelap begini ) Mulai remeng (mulai gelap ) howone adem ( hawanya dingin ) Rasane nang kene kok tambah serem ( rasanya disini semakin seram ) pengen nang omah ( ingin di rumah ) Pengen cepet nhang omah ( ingin cepat di rumah ) Tapi ora ruh arah ( tapi tak tahu arah ) Piye iki mak. Aku pasrah ( bagaimana ini bu, aku pasrah ) Aku ning kene mak 2x... sepi ( aku disini bu, sepi ) Aku ning kene mak 2x .. Wedi ( aku disini bu, takut )



ditulis oleh
sumber

Assalamu'alaikum Para Santri Setelah beberapa hari di Indonesia, Wali Paidi ini berencana melakukan suluk nyepi ke goa di Gunung Arjuna, sesuai perintah sang Sulthonul Aulia. Ia mulai berkemas, berangkat ke Gunung Arjuna. Ber pres-pres rokok sudah disiapkan, mulai Dji Sam Soe, Gudang Garam hingga Djarum. Tidak ketinggalan juga kopi satu blek (satu toples besi) dibawanya.

Setelah sampai di kaki Gunung Arjuna, Wali Paidi mulai mendaki, mencari goa yang dimaksud sang Sulthonul Aulia. Mulut goa itu ternyata sangat kecil dan tertutup ilalang. Namun dalamnya sangat luas. Di pojok kiri ada sumber mata air. Sementara pojok kanannya ada batu yang menyerupai meja. Mungkin meja itu pernah dipakai untuk shalat oleh seseorang. Barang bawaan Wali Paidi diletakkan di sebelah batu itu, lalu bergegas menuju mata air, mandi dan berwudlu. 
Ketika mandi, hati Wali Paidi ini tiba-tiba saja memiliki kecepatan berzikir. Pengetahuan ruhaninya pun kian bertambah mendadak. Hatinya berbunga-bunga tanpa dapat dicegah. Nur bashirahnya semakin terang benderang. Setelah berwudlu, Wali Paidi mengerjakan shalat di atas batu yang mirip meja tadi. 
Saking nikmatnya, tanpa terasa Wali Paidi shalat ratusan rakaat hingga akhirnya tersadar ketika ia mendengar ayam berkokok, tanda memasuki Subuh. Istirahat, Wali Paidi turun dari batu shalat.
Ia menuju tempat perbekalannya, membuat kopi dan duduk santai sambil merokok. Panci sudah dikeluarkan, dan rokok Dji Sam Soe Reefil sudah disiapkan pula. Namun, ketika mau menyalakan sebatang rokok, Wali Paidi bingung. Koreknya tidak ada, raib. Ia keluarkan semua isi tas, tapi tetap saja tidak ditemukan.''Wadoh, ciloko iki,'' gumamnya, tak ada orang. Satu blek kopi yang aromanya harum menggoda bersama pres-presan rokok pelbagai merk, tergeletak di sampingnya.''Muspro kabeh iki, kok bisa koreknya gak kebawa," Wali Paidi kesal.

Satu dua hari dilalui Wali Paidi tanpa kopi dan rokok. Namun pada hari ketiga, ia mulai tidak tahan. Hatinya semeblak (tergoda) ketika melihat kopi dan rokok terkulai tak berguna. Cari korek, Wali Paidi mulai membaca banyak hizib. Setelah membaca isyfa' (berikanlah syafaat!) tiga kali, mengusapkan telapak tangan pada matanya, "byarr!", seluruh alam jin dan makhluk halus lainnya tampak sangat jelas dilihat. Segerombolan jin di luar goa di sebelah kiri, kira-kira 10 meter dari mulut goa, terlihat sangat jelas oleh Wali Paidi. Ia mendatangi bangsa jin itu. Mereka takut melihat Wali Paidi datang.''Ada yang punya korek api?''''Kami tidak punya,'' jawab para jin. Mendengar jawaban itu, Wali Paidi malah mengobrak-abrik tempat para jin tersebut. Mereka lari tunggang langgang, banyak yang terluka.Karena belum juga menemukan korek api untuk rokoknya, Wali Paidi terus mendatangi banyak tempat para bangsa jin di sekitar goa. Kalau ditanya korek api dijawab "tidak punya", ia lansung memborbardir tempat bersemanyam mereka. Seluruh desa dan kota dari kerajaan jin yang ada di kawasan Gunung Arjuna telah diobrak-abrik oleh Wali Paidi. Hampir semuanya. Gempar. Namanya terkenal dan menjadi sosok misterius yang menakutkan di kalangan bangsa jin. Kabar kesaktian wali tak dikenal itu akhirnya sampai ke pusat kerajaan bangsa jin. Penasaran, raja jin mengundang Wali Paidi ke istana. Di pintu gerbang istana, Wali Paidi disambut dua prajurit yang memang diperintah raja menyambutnya, walau wajah mereka nampak ketakutan melihat Wali Paidi. 

Di dalam istana, raja jin bernama Ismoyo sudah menunggu. Takdzim, Raja Ismoyo ini langsung turun dari singgasana menyambut Wali Paidi dan mempersilakannya duduk di sampingnya.''Hamba dengar tuan wali telah membuat geger kerajaan hamba. Tuan telah mengobrak-abrik seluruh wilayah kerajaan tanpa ada yang sanggup melawan, apakah gerangan yang tuan cari sehingga tuan murka begini. Mungkin hamba bisa membantu,'' Raja Ismoyo sangat hati-hati menyusun kalimat. Ia ketakutan sekali."Aku mencari korek, apakah Anda punya?"Seluruh prajurit tegang menunggu jawaban raja mereka. 
Pedang dan tombak sudah mereka pegang, hanya bersiap saja kalau-kalau ada hal tak diinginkan bakalan terjadi. Keringat bau khas kemenyan keluar dari pori para prajurit Raja Jin Ismoyo. Saking tegangnya, ada perajurit yang terkencing-kencing di celana. Hehehe. (Celana mereka Jeans semua kayaknya)."Tuan wali, buat apakah korek tersebut kalau hamba boleh tahu?""Menyalakan ini dan membuat ini," jawab Wali Paidi sambil menunjukkan rokok dan kopinya."Hanya untuk itu?""Ya, hanya untuk ini". Raja Ismoyo membatin: wali ini aneh, masak hanya gara-gara pingin ngerokok dan ngopi saja dia pakai menghacurkan kerajaanku, dasar wali semprul!"Eeitt, namaku Paidi, bukan Semprul," sahut Wali Paidi."Ah, mohon maaf tuan, ternyata tuan bisa membaca isi hati hamba," Raja Ismoyo makin takut, gemes campur kagum dan penasaran."Trus gimana, sampeyan punya korek apa tidak?""Kalau hanya untuk menyalakan itu, pakai ini saja, tuan," Ismoyo menjulurkan jari telunjuknya yang tiba-tiba bisa mengeluarkan api.

"MasyaAllah, kalian kan memang terbuat dari api yah. Maaf, baru ingat saya. Hehehe," Wali Paidi malah cengengesan lagak tak bersalah telah hancurkan tempat-tempat keramat jin.Wali Paidi mendekati raja Ismoyo, mengeluarkan sebatang rokok Dji Sam Soe Refill-nya dan mulai menghisap."Hu...Allah...Hu...Allah..," begitulah yang terdengar ketika Wali Paidi merokok.Tak diperintah, Raja Ismoyo memanggil panglima, "buatkan kopi untuk tuan wali ini," titahnya. Ismoyo mengambil kopi dari Wali Paidi dan menyerahkan kepada the panglima."Jangan manis-manis, ya!" Wali Paidi masih saja menganggap dia sedang ngopi di warung Sutemi sana. Gara-gara Wali Paidi, kerajaan jin Raja Ismoyo yang dulu terkenal angker dan ditakuti bangsa jin lainnya dan juga manusia, kini berubah bak warung kopi pinggiran jalan, ramainya mirip makam-makam para Sunan Walisongo di Jawa yang tiap hari didatangi ribuan peziarah."Sampeyan tidak merokok ya?""Tidak"."Apakah sampeyan itu jin Muhammadiyyah?""Saya tidak mengerti maksud tuan," jawab Raja Ismoyo. Ya jelas tidak tahu lah. Muhammadiyah kan ormas sebelah, pimpinannya juga manusia, bukan jin. Lagi-lagi Wali Paidi memang paidi, masih merasa kalau di alam jin ada NU dan Muhammadiyah (yang mengharamkan rokok)."Maaf, agama sampeyan apa?""Saya tidak beragama"."Oh, begitu!"Keduanya lalu terdiam agak lama, "maaf tuan, mantra apa yang tuan baca sehingga tuan tidak bisa dikalahkan oleh para prajurit saya," tanya raja Ismoyo menyela jeda keheningan obrolan."Hizib dan shalawat". "Maukah tuan mengajarkan kepada saya?"
"Boleh-boleh, tapi sampeyan harus masuk Islam dulu," Wali Paidi memberi syarat.Raja Ismoyo akhirnya memanggil panglima. Sang panglima diperintah mengumpulkan seluruh rakyat dan semua prajuritnya. Dalam sekejab, balai agung istana ramai, disesaki prajurit dan rakyat yang datang. Bahkan sampai meluber keluar istana. Di kaki Wali Paidi, di hadapan prajurit dan rakyatnya, Raja Ismoyo bersimpuh."Kami dengan suka rela siap masuk Islam, mengikuti agama tuan"."Baiklah, ikuti apa yang saya ucapkan," perintah Wali Paidi kepada ribuan jin yang akan jadi muallaf. Dengan suara yang sangat berwibawa, Wali Paidi mengucapkan dua kalimat syahadat yang diikuti seluruh bangsa jin kerajaan Raja Ismoyo hingga suaranya menggema ke seluruh Gunung Arjuna, seperti dentuman suara koor lagu. Seluruh hewan di Gunung Arjuna pun berhenti sejenak mendengar ikrar syahadat itu. Tidak ada yang bersuara mendengarkan ucapan syarat awal jadi muslim tersebut.

Setelah itu, Wali Paidi mengajarkan kepada mereka tentang makna Islam dan menjabarkan arti iman secara singkat. Selama beberapa minggu, Wali Paidi harus tinggal di istana Raja Ismoyo untuk mengajari bangsa jin tentang tata-cara shalat, berdzikir dan lain sebagainya."Kami masih butuh pencerahan dari tuan, sudilah kiranya tuan tetap di sini beberapa hari lagi," pinta raja Ismoyo kepada Wali Paidi ketika ia berniat pamit."Jangan kuatir, kelak aku akan datang lagi kemari".Wali Paidi tersenyum. mendekat, memegang dada Raja Ismoyo, "Ajaklah hatimu untuk dzikir terus menerus, ucapkan Allah...Allah...secara berkesinambungan. Dalam keadaan apapun, teruslah berdzikir dan berusahalah selalu dalam keadaan punya wudlu (dawamul wudlu). Andai Allah mencabut nyawamu, kamu dalam keadaan suci".
"Terima kasih tuan, pesan tuan akan kami laksanakan". Ismoyo sangat ta'dzim."Kalau hatimu sudah bisa berdzikir, maka Allah sendiri yang akan membimbingmu"."Apakah kami akan menjadi wali kalau hati kami sudah bisa berdzikir sendiri"."Hahahahaha. Jangan sekali-kali punya niat ingin jadi wali, karena keinginan itu termasuk nafsu. Berdzikirlah karena Allah. Jangan ada niatan yang lain!".Setelah menghisap rokoknya, Wali Paidi berkata lagi, "Allah menjadikan manusia sebagai pemimpin dimuka bumi ini, dan mengangkat para walinya dari kalangan manusia"."Oh begitu, kalau Allah menghendaki begitu, kami sangat ridla atas keputusan Allah tersebut," jawab Raja Ismoyo. 
Ia sadar posisi dan tawakkal atas kehendak Allah. Subhanallah."Kalau boleh tahu, tuan ini wali yang bagaimana?""Hmm, aku adalah wali Abdal, wali pengganti. Kalau istilah dalam sepak bola disebut pemain cadangan, wali tingkat rendah. Aku dulu hanya abdi ndalem seorang kiai. Tugasku hanya menyiapkan rokok dan kopi. Setelah kiai saya meninggal, akulah yang dipilih Allah sebagai gantinya," terang Wali Paidi."Kalau diganti terus, berarti jumlah wali itu tetap sama dari dulu sampai sekarang?""Iya, jumlah wali di seluruh dunia tetap sama, karena setiap ada yang meninggal, pasti ada gantinya. Biarpun kamu tidak ada hak untuk menjadi wali, harus tetap semangat. 
Di mata Allah, derajat seseorang itu dilihat dari ketaqwaannya. Wali itu hanya title yang diberikan Allah buat para wakil-wakilnya dimuka bumi (khalifah) guna untuk mengatur dan menata manusia. Dan wali dipilih dari para hamba yang dikehendaki-Nya. Bukan karena ibadahnya, bukan karena dzikirnya, tapi karena kehendak Allah. Jadi salah besar kalau ada orang yang ingin atau mempunyai cita-cita menjadi wali".Pesan itu dianggap sangat bermanfaat oleh para bangsa jin yang baru masuk Islam tersebut. Wali Paidi pamit meninggalkan Gunung Arjuna, diiringi Raja Ismoyo dan seluruh rakyatnya.

Setelah Wali Paidi sudah tidak tampak, Raja Ismoyo memerintahkan dengan suara lantang kepada seluruh rakyatnya."Rakyatku semua, nanti atau kapanpun, jika ada orang yang ke Gunung Arjuna ini berbekal rokok dan kopi, jangan sampai diganggu. Jagalah sampai mereka meninggalkan Gunung Arjuna ini. Kita niatkan menghormati guru kita, Wali Paidi"."Titah paduka siap laksanakan," jawab para jin. 

Di belakang, ada jin nakal yang ngelinthing rokok Dji Sam Soe sisa-sisa hisapan Wali Paidi. "Barokah nih rokoknya!" ujarnya.Kemudian raja jin Ismoyo melihat prajurit nya ngopi sambil merokok, langsung ngomong, "Oooow Kake'ane tenan! Malah ndisiki rojomu kowe bro! Kwkwkwkwkwkwkwwww. 


sumber dutaislam.com

Assalamu'alaikum Para Santri ~  Ada sekelompok golongan yg suka membid’ah-bid’ahkan (sesat) berbagai kegiatan yang baik di masyarakat, seperti peringatan Maulid, Isra’ Mi’raj, Yasinan mingguan, Tahlilan dll.
Kadang mereka berdalil dengan dalih “Agama ini telah sempurna” atau dalih “Jika perbuatan itu baik, niscaya Rasulullah saw. telah mencontohkan lebih dulu” atau mengatakan “Itu bid’ah” karena tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Atau “jikalau hal tersebut dibenarkan, maka pasti Rasulullah saw. memerintahkannya. Apa kamu merasa lebih pandai dari Rasulullah?”

Mem-vonis bid’ah sesat suatu amal perbuatan (baru) dengan argumen di atas adalah lemah sekali. Ada berbagai amal baik yang Baginda Rasul saw. tidak mencontohkan ataupun memerintahkannya. Teriwayatkan dalam berbagai hadits dan dalam fakta sejarah.

Hadis riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. berkata kepada Bilal ketika shalat fajar (shubuh), “Hai Bilal, ceritakan kepadaku amalan apa yang paling engkau harap pahalanya yang pernah engkau amalkan dalam masa Islam, sebab aku mendengar suara terompamu di surga. Bilal berkata, “Aku tidak mengamalkan amalan yang paling aku harapkan lebih dari setiap kali aku berssuci, baik di malam maupun siang hari kecuali aku shalat untuk bersuciku itu”.

Dalam riwayat at Turmudzi yang ia shahihkan, Nabi saw. berkata kepada Bilal,‘Dengan apa engkau mendahuluiku masuk surga? ” Bilal berkata, “Aku tidak mengumandangkan adzan melainkan aku shalat dua rakaat, dan aku tidak berhadats melaikan aku bersuci dan aku mewajibkan atas diriku untuk shalat (sunnah).” Maka Nabi saw. bersabda “dengan keduanya ini (engkau mendahuluiku masuk surga).

Hadis di atas juga diriwayatkan oleh Al Hakim dan ia berkata, “Hadis shahih berdasarkan syarat keduanya (Bukhari & Muslim).” Dan adz Dzahabi mengakuinya. Hadis di atas menerangkan secara mutlak bahwa sahabat ini (Bilal) melakukan sesuatu dengan maksud ibadah yang sebelumnya tidak pernah dilakukan atau ada perintah dari Nabi saw. Hadis riwayat Bukhari, Muslim dan para muhaddis lain pada kitab Shalat, bab Rabbanâ laka al Hamdu, 

Dari riwayat Rifa’ah ibn Râfi’, ia berkata, “Kami shalat di belakang Nabi saw., maka ketika beliau mengangkat kepala beliau dari ruku’ beliau membaca, sami’allahu liman hamidah (Allah maha mendengar orang yang memuji-Nya), lalu ada seorang di belakang beliau membaca, “Rabbanâ laka al hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fîhi (Tuhan kami, hanya untuk-Mu segala pujian dengan pujian yang banyak yang indah serta diberkahi). Setelah selesai shalat, Nabi saw. bersabda, “Siapakah orang yang membaca kalimat-kalimat tadi?” Ia berkata, “Aku.” Nabi bersabda, “Aku menyaksikan tiga puluh lebih malaikat berebut mencatat pahala bacaaan itu.

”Ibnu Hajar berkomentar, “Hadis itu dijadikan hujjah/dalil dibolehannya berkreasi dalam dzikir dalam shalat selain apa yang diajarkan (khusus oleh Nabi saw.) jika ia tidak bertentang dengan yang diajarkan. Kedua dibolehkannya mengeraskan suara dalam berdzikir selama tidak menggangu.
”Imam Muslim dan Abdur Razzaq ash Shan’ani meriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata,Ada seorang lali-laki datang sementara orang-orang sedang menunaikan shalat, lalu ketika sampai shaf, ia berkata:اللهُ أكبرُ كبيرًا، و الحمدُ للهِ كثيرًا و سبحانَ اللهِ بكْرَةً و أصِيْلاً .
Setelah selesai shalat, Nabi saw. bersabda, “Siapakah yang mengucapkan kalimat-kalimat tadi?Orang itu berkata, “Aku wahai Rasulullah saw., aku tidak mengucapkannya melainkan menginginkan kebaikan.”Rasulullah saw. bersabda, “Aku benar-benar menyaksikan pintu-pintu langit terbuka untuk menyambutnya.”Ibnu Umar berkata, “Semenjak aku mendengarnya, aku tidak pernah meninggalkannya.

”Dalam riwayat an Nasa’i dalam bab ucapan pembuka shalat, hanya saja redaksi yang ia riwayatkan: “Kalimat-kalimat itu direbut oleh dua belas malaikat.”Dalam riwayat lain, Ibnu Umar berkata: “Aku tidak pernah meninggalkannya semenjak aku mendengar Rasulullah saw. bersabda demikian.”Di sini diterangkan secara jelas bahwa seorang sahabat menambahkan kalimat dzikir dalam i’tidâl dan dalam pembukaan shalat yang tidak/ belum pernah dicontohkan atau diperintahkan oleh Rasulullah saw. Dan reaksi Rasul saw. pun membenarkannya dengan pembenaran dan kerelaan yang luar biasa.Al hasil, Rasulullah saw. telah men-taqrîr-kan (membenarkan) sikap sahabat yang menambah bacaan dzikir dalam shalat yang tidak pernah beliau ajarkan.

Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, pada bab menggabungkan antara dua surah dalam satu raka’at dari Anas, ia berkata, “Ada seorang dari suku Anshar memimpin shalat di masjid Quba’, setiap kali ia shalat mengawali bacaannya dengan membaca surah Qul Huwa Allahu Ahad sampai selesai kemudian membaca surah lain bersamanya. Demikian pada setiap raka’atnya ia berbuat. Teman-temannya menegurnya, mereka berkata, “Engkau selalu mengawali bacaan dengan surah itu lalu engkau tambah dengan surah lain, jadi sekarang engkau pilih, apakah membaca surah itu saja atau membaca surah lainnya saja.” Ia menjawab, “Aku tidak akan meninggalkan apa yang biasa aku kerjakan. Kalau kalian tidak keberatan aku mau mengimami kalian, kalau tidak carilah orang lain untuk menjadi imam.” Sementara mereka meyakini bahwa orang ini paling layak menjadi imam shalat, akan tetapi mereka keberatan dengan apa yang dilakukan. Ketika mereka mendatangi Nabi saw. mereka melaporkannya. Nabi menegur orang itu seraya bersabda, “hai fulan, apa yang mencegahmu melakukan apa yang diperintahkan teman-temanmu? Apa yang mendorongmu untuk selalu membaca surah itu (Al Ikhlash) pada setiap raka’at? Ia menjawab, “Aku mencintainya.”Maka Nabi saw. bersabda, “Kecintaanmu kepadanya memasukkanmu ke dalam surga.

”Demikianlah sunnah dan jalan Nabi saw. dalam menyikapi kebaikan dan amal keta’atan walaupun tidak diajarkan secara khusus oleh beliau, akan tetapi selama amalan itu sejalan dengan ajaran kebaikan umum yang beliau bawa maka beliau selalu merestuinya. Jawaban orang tersebut membuktikan motifasi yang mendorongnya melakukan apa yang baik kendati tidak ada perintah khusus dalam masalah itu, akan tetapi ia menyimpulkannya dari dalil umum dianjurkannya berbanyak-banyak berbuat kebajikan selama tidak bertentangan dengan dasar tuntunan khusus dalam syari’at Islam. Kendati demikian, tidak seorangpun dari ulama Islam yang mengatakan bahwa mengawali bacaan dalam shalat dengan surah al Ikhlash kemudian membaca surah lain adalah sunnah yang tetap! Sebab apa yang kontinyu diklakukan Nabi saw. adalah yang seharusnya dipelihara, akan tetapi ia memberikan kaidah umum dan bukti nyata bahwa praktik-prakti seperti itu dalam ragamnya yang bermacam-macam walaupun seakan secara lahiriyah berbeda dengan yang dilakukan Nabi saw. tidak berarti ia bid’ah (sesat).
Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab at Tauhid, dari Ummul Mukminin Aisyah ra. bahwa Nabi sa. Mengutus seorang memimpin sebuah pasukan, selama perjalanan orang itu apabila memimpin shalat membaca surah tertentu kemudian ia menutupnya dengn surah al Ikhlash (Qulhu). Ketika pulang, mereka melaporkannya kepada nabi saw., maka beliau bersabda, “Tanyakan kepadanya, mengapa ia melakukannya?” Ketika mereka bertanya kepadanya, ia menjawab “Sebab surah itu (memuat) sifat ar Rahman (Allah), dan aku suka membacanya.” Lalu Nabi saw. bersabda, “Beritahukan kepadanya bahwa Allah mencintainya.” (Hadis Muttafaqun Alaihi).Apa yang dilakukan si sahabat itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi saw., namun kendati demikian beliau membolehkannya dan mendukung pelakunya dengan mengatakan bahwa Allah mencintainya. 
(Abah Anom)


ditulis Ulang oleh Pak Rt


Assalamu'alaikum Para Santri ~ Mari kita renungkan kisah dibahah ini,  Insya Allah bermanfaat.

Seorang mandor bangunan yg berada di lt 5 ingin memanggil pekerjanya yg lagi bekerja di bawah
Setelah sang mandor berkali-kali berteriak memanggil, si pekerja tidak dapat mendengar karena fokus pada pekerjaannya dan bisingnya alat bangunan.
Sang mandor terus berusaha agar si pekerja mau menoleh ke atas, dilemparnya Rp. 1.000- yg jatuh tepat di sebelah si pekerja.
Si pekerja hanya memungut Rp 1.000 tsb dan melanjutkan pekerjaannya.
Sang mandor akhirnya melemparkan Rp 100.000 dan berharap si pekerja mau menengadah "sebentar saja" ke atas.
Akan tetapi si pekerja hanya lompat kegirangan karena menemukan Rp 100.000 dan kembali asyik bekerja.
Pada akhirnya sang mandor melemparkan batu kecil yang tepat mengenai kepala si pekerja. Merasa kesakitan akhirnya si pekerja baru mau menoleh ke atas dan dapat berkomunikasi dengan sang mandor...

Cerita tersebut di atas sama dengan kehidupan kita, ALLAH selalu ingin menyapa kita, akan tetapi kita selalu sibuk mengurusi "dunia" kita.
Kita diberi rejeki sedikit maupun banyak, sering kali kita lupa untuk menengadah bersyukur kpd NYA

Bahkan lebih sering kita tidak mau tahu dari mana rejeki itu datang•••
Bahkan kita selalu bilang ••• kita lagi "HOKI!"
Yang lebih buruk lagi kita menjadi takabur dengan rejeki milik ALLAH .
Jadi jangan sampai kita mendapatkan lemparan "batu kecil" yg kita sebut MUSIBAH ...! agar kita mau menoleh kepada-NYA.

Sungguh ALLAH sangat mencintai kita, marilah kita selalu ingat untuk menoleh kepada NYA sebelum Allah melemparkan batu kecil.
Ya ALLAH...
* Muliakanlah saudara2ku ini & Lembutkan hati mereka.
* Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
* Lapangkanlah hatinya
* Bahagiakanlah keluarganya
* Luaskan rezekinya
* Mudahkan segala urusannya
* Kabulkan cita-citanya
* Jauhkan dari segala Musibah
* Jauhkan dari segala Penyakit,Fitnah,Prasangka Keji,Berkata Kasar dan Mungkar.

Amiiin ya Rabbal alamiin.



Ditulis Ulang Oleh Pak Rt

Top Ad unit 728 × 90

ads